BONDOWOSO — Memasuki periode musim kemarau yang berpotensi meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso memperkuat kesiapsiagaan personel sekaligus mempererat sinergi dengan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Apel Kesiapsiagaan dan Simulasi Penanggulangan Karhutla yang digelar di Petak 18D, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Tegalampel, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Klabang), Kamis (6/8/2026).
Kegiatan tidak hanya menjadi agenda kesiapsiagaan internal, tetapi juga menjadi momentum untuk menguji kesiapan personel dalam menghadapi kemungkinan munculnya titik api di tengah kondisi cuaca yang semakin kering.
Seluruh jajaran manajemen Perhutani KPH Bondowoso turut ambil bagian, bersama para Asisten Perhutani (Asper), Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH), serta Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Dalkarhutla) dari unsur Partisipasi Masyarakat (Parmas).
Rangkaian kegiatan dilakukan secara praktis dan terukur. Para peserta mendapatkan materi mengenai penanganan karhutla, dilanjutkan praktik penanganan awal kebakaran, penggunaan peralatan pemadaman, hingga simulasi koordinasi lapangan antarpersonel.
Langkah tersebut dinilai penting karena keberhasilan penanganan kebakaran hutan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan peralatan, tetapi juga oleh kecepatan informasi, kesiapan sumber daya manusia, kemampuan mengambil tindakan awal, serta koordinasi antarunsur di lapangan.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menjelaskan bahwa kondisi musim kemarau perlu mendapat perhatian serius karena fenomena El Niño berpotensi meningkatkan intensitas kemarau.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat ditandai dengan menurunnya curah hujan, meningkatnya suhu udara, serta berkurangnya kelembapan bahan bakar vegetasi.
Ketika kondisi tersebut berlangsung, serasah, ranting, dan vegetasi bawah yang berada di kawasan hutan menjadi semakin kering. Kondisi itu pada akhirnya meningkatkan tingkat kemudahterbakaran atau flammability dan memperbesar potensi terjadinya kebakaran.
Karena itu, Perhutani menempatkan pencegahan dan kesiapsiagaan sebagai bagian penting dari strategi pengamanan kawasan hutan selama musim kemarau.
“Melalui simulasi ini, kami memperkuat kapasitas sumber daya manusia, meningkatkan koordinasi lintas unsur, serta memastikan seluruh personel memahami prosedur penanganan kebakaran secara cepat, tepat, dan aman,” ujar Misbakhul Munir.
Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak semata-mata berbicara mengenai memadamkan api ketika kebakaran telah terjadi. Menurutnya, langkah pencegahan harus menjadi prioritas karena kebakaran hutan dapat menimbulkan dampak yang luas, baik terhadap ekologi, ekonomi maupun kehidupan sosial masyarakat.
“Pencegahan merupakan langkah yang paling efektif dalam meminimalkan dampak ekologis, ekonomi, maupun sosial akibat kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Masyarakat Jadi Mata dan Telinga Kawasan Hutan:
Dalam upaya memperkuat sistem pencegahan, keterlibatan masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan juga menjadi bagian penting.
Perwakilan Partisipasi Masyarakat (Parmas), Suroto, mengatakan masyarakat memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan kawasan hutan dan dapat menjadi salah satu unsur pertama yang mengetahui apabila muncul indikasi kebakaran.
Menurutnya, sinergi antara Perhutani dan masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Kerja sama harus diwujudkan melalui patroli bersama, penyampaian informasi secara cepat, serta edukasi kepada masyarakat mengenai aktivitas yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran.
“Kami siap mendukung Perhutani dalam menjaga kawasan hutan melalui patroli bersama, pelaporan cepat apabila ditemukan titik api, serta mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian hutan,” ungkap Suroto.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian karhutla membutuhkan pola kerja kolaboratif. Perhutani memiliki personel dan sistem pengelolaan kawasan, sementara masyarakat yang tinggal di sekitar hutan memiliki peran penting dalam pengawasan lingkungan secara langsung.
Simulasi Berlanjut ke Patroli Kawasan:
Setelah apel kesiapsiagaan dan simulasi selesai dilaksanakan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan patroli bersama menyusuri kawasan hutan di wilayah Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan (SKPH) Bondowoso Utara.
Patroli tersebut bukan sekadar kegiatan pemantauan rutin. Langkah tersebut diarahkan untuk melihat langsung kondisi kawasan, mengidentifikasi titik-titik yang memiliki potensi kerawanan kebakaran, sekaligus memastikan komunikasi antara petugas Perhutani dengan unsur masyarakat berjalan efektif.
Dengan patroli bersama, potensi gangguan maupun indikasi awal kebakaran diharapkan dapat diketahui sedini mungkin sehingga dapat segera dilakukan langkah penanganan sesuai prosedur.
Kesiapsiagaan tersebut menjadi semakin penting ketika memasuki musim kemarau. Kondisi vegetasi yang semakin kering dapat membuat api lebih mudah berkembang apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, apel kesiapsiagaan, simulasi, peningkatan kapasitas personel, patroli kawasan, serta pelibatan masyarakat menjadi satu rangkaian strategi preventif yang saling berkaitan.
Perhutani KPH Bondowoso melalui kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian karhutla tidak hanya dilakukan ketika api telah muncul, tetapi dimulai jauh sebelumnya melalui kesiapan personel, penguasaan prosedur, ketersediaan kemampuan penanganan awal, komunikasi lintas unsur, dan pengawasan kawasan secara berkelanjutan.

Di tengah potensi kemarau yang lebih kering akibat fenomena El Niño, kesiapsiagaan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan hutan Bondowoso agar tetap terlindungi dari ancaman kebakaran sekaligus mempertahankan fungsi ekologis dan manfaat hutan bagi masyarakat.
(Red/Tim-Biro Investigasi PT SITI JENAR GROUP MULTIMEDIA)






