Berita  

Nasim Khan Klarifikasi Secara Tegas Terkait Usulan Gerbong Merokok di KAI Yang Menuai Kontroversi

Redaksi

Coretanrakyat.id Jakarta, Jumat 22 Agustus 2025 — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Nasim Khan, memberikan klarifikasi terkait usulannya mengenai perlunya PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyediakan gerbong khusus bagi penumpang yang merokok. Usulan tersebut sebelumnya memicu perdebatan publik setelah disampaikannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama pihak terkait.

Nasim Khan mengaku memahami kekhawatiran serta kritik dari sejumlah kalangan, khususnya para aktivis kesehatan dan kelompok antirokok, yang menilai wacana itu berpotensi bertentangan dengan semangat regulasi kawasan tanpa rokok. Ia pun menyampaikan permohonan maaf bila pernyataannya menimbulkan polemik dan dianggap menyinggung pihak-pihak yang peduli pada isu kesehatan masyarakat.

“Sebagai anggota DPR, tugas saya adalah menyerap dan menyampaikan aspirasi masyarakat. Usulan terkait adanya ruang atau gerbong khusus merokok di kereta muncul dari keluhan penumpang perokok yang merasa tidak terakomodasi. Saya bukan sedang membela rokok, tetapi ingin mencari titik temu agar hak dan kenyamanan semua penumpang tetap terjaga,” jelas Nasim Khan.

Menurut Nasim Khan, gagasan itu lahir dari kepeduliannya terhadap aspirasi masyarakat, khususnya penumpang kereta api yang merokok. Ia menekankan, solusi teknis bisa dikaji agar gerbong merokok benar-benar terisolasi sehingga tidak mengganggu penumpang di gerbong lain.

“Di beberapa ruang publik masih tersedia smoking room yang layak, terisolasi, dan menggunakan sistem ventilasi modern. Hal semacam itu bisa ditelaah lebih jauh. Faktanya, di lapangan, masih banyak penumpang yang merokok sembunyi-sembunyi di toilet atau di sambungan gerbong, bahkan keluar stasiun untuk merokok. Itu justru lebih berbahaya dan tidak tertib. Kalau ada ruang khusus, hal tersebut bisa lebih terkendali,” ungkapnya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021, sekitar 34,5 persen orang dewasa Indonesia atau setara dengan 70,2 juta jiwa adalah perokok. Angka tersebut, menurut Nasim Khan, menunjukkan adanya kelompok masyarakat besar yang kebutuhannya perlu dipertimbangkan.

Baca juga
Korban Penipuan Di Alun-Alun Besuki, Pelaku Berpura-Pura Jadi Saudara

Nasim Khan dengan tegas menolak anggapan bahwa dirinya berpihak pada kepentingan industri rokok. Ia menegaskan tidak memiliki hubungan, afiliasi, maupun keuntungan finansial dari pabrik rokok atau pebisnis rokok.

“Usulan ini murni lahir dari kepedulian terhadap masyarakat, bukan pesanan industri. Saya sama sekali bukan antek pabrik rokok,” tandasnya.

Lebih jauh, ia juga menyinggung soal keberpihakan dirinya terhadap petani tembakau. Selama ini, kata dia, nasib petani tembakau perlu mendapat dukungan nyata agar kesejahteraannya meningkat. Namun, ia menegaskan hal itu tidak berkaitan dengan wacana gerbong merokok di kereta.

Terkait regulasi, Nasim Khan menegaskan dirinya mendukung aturan hukum yang berlaku dan tidak bermaksud memperdebatkan kebijakan kawasan tanpa rokok yang selama ini sudah diterapkan di transportasi umum, termasuk kereta api.

“Saya sepenuhnya menghormati keputusan KAI dan Kementerian Perhubungan yang menegaskan kereta sebagai kawasan tanpa rokok. Usulan ini bisa saja ditinjau sebagai wacana jangka panjang atau diuji coba terbatas di beberapa rute jarak jauh. Intinya, DPR terbuka terhadap aspirasi masyarakat dan selalu mencari solusi terbaik bagi kepentingan publik,” tutup Nasim Khan.

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Nasim Khan,

Polemik mengenai usulan gerbong merokok ini masih menuai pro dan kontra di masyarakat. Di satu sisi, kelompok kesehatan menilai wacana itu kontraproduktif dengan upaya menekan angka perokok aktif dan melindungi perokok pasif. Di sisi lain, sebagian publik, terutama penumpang perokok, menyambut positif ide tersebut sebagai bentuk kompromi agar hak semua pihak tetap diperhatikan.

(Red/Tim Biro Siti Jenar Group Multimedia)