Berita  

Bantuan Makan Gratis Lansia Kemensos RI di Sumenep Diduga Dipangkas, Oknum PKH Terlibat?

Redaksi
Doc.Foto Makan Gratis Kemensos

Sumenep, coretanrakyat.id // Program bantuan makan gratis untuk Lansia dari Kementrian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), di Kecamatan Gayam, Sumenep disinyalir sarat penyimpangan.

Sejumlah pihak mempertanyakan kualitas makanan yang cenderung dibuat mainan oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) penyedia makanan gratis itu.

Pantauan media ini, bantuan makanan gratis untuk lansia itu bersumber dari anggaran yang bertengger di Kemensos RI. Setiap lansia mendapatkan bantuan nasi seharga 15.000 per bungkus. Setiap hari, lansia menerima bantuan ini sebanyak dua kali, pagi dan siang. Total anggaran setiap hari 30.000 rupiah per lansia.

Sementara ongkos pengantar makanan alias distributor diberi upah 2.000 rupiah per lansia. Distributor mengantar dua nasi, pagi dan siang sekaligus.

Salah satu lansia penerima, MR menyebutkan bahwa nasi tersebut dibungkus menggunakan tempat makan pelastik (Thinwall Rectangle).

Setiap hari tempat makan tersebut dicuci dan ditukar dengan yang ada nasinya kepada pengantar makanan, sehingga bisa digunakan untuk keesokan harinya.

“Iya, tempat makannya dicuci dulu, nanti ketika pengantar nasi sudah datang, ditukar dengan yang ada isinya, setiap hari begitu,” ujarnya.

Tak hanya itu, MR mengaku bahwa setiap hari menu makanan yang diterimanya berbeda-beda. Bahkan selama ini tak setiap hari mendapatkan buah dan air.

“Kadang buahnya itu pisang atau semangka, tapi juga kadang-kadang tidak ada buahnya, intinya tidak setiap hari ada buahnya,” imbuhnya.

Yang membuat aneh, Lansia sebatang kara itu justru memberikan pengakuan yang mengejutkan. Dia menyampaikan bahwa nasi yang diterimanya justru kerap tak ada air kemasannya.

Dia hanya bisa menerima dan tidak bisa berkomentar, karena menurutnya bantuan itu sudah dari pemerintah apa pun bentuknya tetap diterima dengan baik, pihaknya khawatir dihapus sebagai penerima.

Baca juga
Diduga ada Kriminalisasi, Kuasa Hukum Soroti Penanganan Kasus Masriwan oleh Polsek Sapudi

“Tidak setiap hari ada air kemasannya, kadang-kadang juga tidak ada. Saya tetap menerima, karena bantuan ini dari pemerintah, kami terima-terima saja, tidak banyak komplin, apa yang diberikan itu yang saya ambil,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Media DetikOne, Benny Hartono, turut menyoroti pelaksanaan program tersebut. Ia menduga adanya praktik penyimpangan yang berpotensi mengarah pada tindak pidana korupsi.

“Saya curiga ada kongkalikong, Mas. Dengan anggaran sebesar itu, kualitas makanannya justru sangat tidak layak. Apalagi jika benar wadah bekas nasi dicuci lalu digunakan kembali, jelas tidak higienis. Saya akan turun langsung ke Pulau Sapudi untuk investigasi. Jika ditemukan penyimpangan, saya akan laporkan ke aparat penegak hukum. Soalnya Ini program Kemensos untuk lansia sebatang kara,” tegas Benny.

Beni menilai lemahnya fungsi pengawasan dalam program yang seharusnya dijalankan dengan baik. Dia menduga telah terjadi kongkalikong sejak awal pelaksanaan.

“Saya melihat program ini seperti sudah diatur. Salah satu pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) bernama Agus diduga terlibat dalam konflik kepentingan, karena istrinya menjabat sebagai Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) sekaligus menjadi juru masak dalam program ini,” sergahnya.

Benny menambahkan, dalam waktu dekat ia akan melayangkan surat resmi kepada Kementerian Sosial (Kemensos) agar segera turun langsung melakukan investigasi. Ia juga berencana mengirim surat kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menelusuri aliran dana dan kondisi keuangan Ketua Pokmas.

“Pendamping PKH seharusnya fokus mengawasi program. Tapi ini malah istri sendiri yang jadi Ketua Pokmas dan juga memasak. Ini jelas konflik kepentingan dan patut diduga sebagai praktik kolusi karena program dikelola oleh lingkaran keluarga. Saya juga berharap kekayaan mereka diaudit,” tambahnya.

Beni mengaku sangat menyangkan program yang khusu lansia sebatang kara ini jadi bancakan oknum untuk memperkaya diri. Sebab, program yang sudah dirancang sangat luar biasa ini justru masih ada celah untuk di garong.

Baca juga
Polres Situbondo Ungkap Peredaran Okerbaya, 790 Butir Pil Disita

“Ini sangat ironis. Kalau benar tidak ada air minum dan buah dalam paket tersebut, itu sudah menyalahi juknis. Padahal saat saya konfirmasi, Pokmas mengaku sudah sesuai spesifikasi. Ini jelas kebohongan besar dan patut diduga ada permainan dalam program ini untuk memperkaya diri sendiri dan merugikan keuangan negara. Ini jelas pidana, Mas,” tegas pria asal Sumenep itu.

Menanggapi persoalan tersebut, salah satu Pendamping PKH yang disebut menjadi dalang dalam penyaluran program makan gratis ini, Agus Widianto, membenarkan bahwa istrinya memang menjadi ketua Pokmas, dan terlibat dalam pengelolaan program makan gratis untuk lansia.

“Iya benar, Mas. Istri saya yang masak dari pagi. Sekitar jam 10 makanannya diantar ke penerima untuk sarapan pagi dan makan siang,” bantahnya.

Sementara itu, Ketua Pokmas, Rahmatilla, menjelaskan bahwa proses pengolahan dan pengantaran makanan telah mengikuti arahan teknis dari pihak terkait. Ia menyebut makanan dimasak untuk dua kali konsumsi, yakni pagi dan siang.

“Memang dimasak sekaligus untuk makan pagi dan siang, Mas, bukan untuk sore. Jumlah penerima ada 116 lansia. Satu paket 15 ribu, jadi untuk dua kali makan totalnya 30 ribu, ditambah ongkos kirim 2 ribu,” tutupnya.

Hingga berita ini ditayangkan belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. Bahkan dugaan sementara, ada beberapa oknum yang kecipratan hasil dari bisnis program makan gratis lansia ini.

Tim media ini akan melakukan investigasi lebih lanjut terkait dugaan kongkalikong pemotongan bantuan makan gratis lansia yang masif dan terstruktur ini.***