SITUBONDO – Pemerintah Kecamatan Situbondo menggelar forum Ngopi Bareng Lintas Sektor di Pendopo Kecamatan Situbondo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Rabu malam (10/12). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB itu mempertemukan berbagai unsur mulai dari tiga pilar kecamatan, para kepala desa dan lurah, RT/RW, pengurus bank sampah, hingga perwakilan dinas terkait.
Camat Situbondo, Rosi Rosaindratna, S.Sos, didampingi Sekcam Miftah Farid Jamaluddin, menyampaikan bahwa diskusi kali ini difokuskan pada dua isu utama yang saling berkaitan erat: banjir dan persampahan.
Rosi menegaskan bahwa Kecamatan Situbondo tengah mendorong program tematik bertajuk “Bersabar” (Bersihkan Sampah untuk Bebaskan Banjir). Program ini menargetkan penanganan serius terhadap persoalan sampah yang kerap menjadi pemicu banjir di sejumlah titik.
“Masyarakat harus memahami bahwa banjir tidak berdiri sendiri. Hampir selalu ada kaitannya dengan sampah yang menumpuk di saluran,” ujar Rosi.
Camat Rosi mencontohkan kawasan Seroja, bahwa banjir kini jarang terjadi berkat komunikasi yang lebih baik antara tiga pilar kecamatan dan dinas teknis. Normalisasi aliran air telah dilakukan meskipun hanya secara manual, lantaran alat berat tak bisa diturunkan akibat banyaknya jembatan atau plat deker ilegal yang dibangun warga tanpa koordinasi.
Berbeda dengan Seroja, kawasan RT 3 RW 2 Karang Asem masih menjadi titik banjir akibat timbunan sampah. Selain perlunya normalisasi ulang, masyarakat juga diimbau berhenti membuang sampah ke saluran. Tantangan lain adalah banyaknya badan saluran yang telah dimanfaatkan warga untuk kepentingan pribadi.
“Tenaga kerja untuk mengangkat sampah dari saluran masih kurang. Solusinya harus dimulai dari warga sendiri, misalnya dengan adanya petugas sampah di tiap lingkungan,” kata Rosi.
Sementara itu Sekcam Situbondo <span;>Miftah Farid Jamaluddin,<span;> menekankan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah. Pemilahan sampah mandiri serta pembentukan bank sampah di tingkat RT dinilai dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di saluran.
Sampah organik bahkan bisa diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dapat bernilai ekonomi. “Perlu edukasi agar masyarakat terbiasa memilah karena sampah itu bisa diuangkan,” ujar Miftah.
Dalam ngopi bareng Camat Situbondo menyampaikan keluhan warga kawasan Wijaya Kususma terkait luapan air saat hujan besar. Menurut Dinas PUPP, pada 2026 akan dilakukan peninggian jembatan, yang diharapkan dapat mengatasi genangan di kawasan tersebut.
Dalam forum tersebut, disepakati beberapa strategi penanganan sampah, yaitu:
• Pembentukan tim satgas penanganan sampah di kecamatan.
• Edukasi persampahan ke tingkat RT/RW dengan menghadirkan narasumber dari bank sampah.
• Mengaktifkan kembali bank sampah di setiap RT.
• Sosialisasi pengolahan dan pemilahan sampah melalui organisasi masyarakat seperti PKK dan dasawisma.
Selain isu banjir dan sampah, kecamatan juga menggarap program unggulan berupa penanaman dua pohon maronggi (kelor)di setiap rumah. Tanaman ini dinilai penting untuk kebutuhan MBG serta memiliki manfaat kesehatan.
<span;>Forum ngopi bareng ini ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi dan aksi nyata di lapangan, demi mewujudkan Situbondo yang lebih bersih dan bebas banjir.







